Air Warga Makin Seret! BP Batam Bicara Optimalisasi, Publik: Data Pompa Dan Kaporit Mana?

Cyberkriminal.ID, BATAM — Persoalan pelayanan air bersih di Batam kian menjadi pusat perhatian. Setelah sebelumnya masyarakat mengeluhkan debit air yang tersendat di sejumlah wilayah, Badan Pengusahaan (BP) Batam melalui Direktorat Badan Usaha SPAM menyatakan terus melakukan perbaikan dan optimalisasi tata kelola penyediaan air minum.

Dalam keterangannya menjawab pertanyaan konfirmasi oleh Ikatan Penulis dan Jurnalis Indonesia (IPJI) Kepri, Selasa (22/09/2026) malam, Direktorat Badan Usaha SPAM BP Batam menyebut proses perbaikan dan pengembangan pelayanan air merupakan pekerjaan yang masih berjalan (on-going process), mencakup penguatan infrastruktur, peningkatan kapasitas produksi hingga keandalan distribusi.

BP Batam juga menyatakan proses pengolahan dan distribusi air tetap mengacu pada standar baku mutu yang berlaku. Sebelumnya, BP Batam menyebut kondisi cuaca dan rendahnya curah hujan turut memengaruhi ketersediaan air baku, termasuk penurunan volume Waduk Nongsa yang berdampak terhadap kapasitas produksi IPAM Nongsa.

Namun, jawaban tersebut justru membuka ruang pertanyaan baru.

Jika penguatan infrastruktur dan optimalisasi sistem terus dilakukan, seberapa besar sebenarnya kapasitas infrastruktur yang dimiliki BP Batam untuk menjamin air tetap mengalir ke rumah-rumah warga?

Pertanyaan tersebut diarahkan kepada Idul Priady, Direktur Badan Usaha SPAM dan Pengelolaan Limbah BP Batam.

Pertama, berapa jumlah total pompa air yang dimiliki dan dioperasikan BP Batam untuk mendukung pelayanan air minum masyarakat Batam?

Apakah seluruh pompa tersebut dalam kondisi aktif dan optimal, berapa yang sedang menjalani perawatan, serta berapa kapasitas masing-masing pompa?

Kedua, berapa total biaya pembelian dan penggunaan kaporit atau bahan kimia pengolahan air yang dikeluarkan BP Batam dalam satu bulan?

Pertanyaan ini penting untuk mengetahui seberapa besar anggaran yang dialokasikan untuk memastikan air yang diproduksi memenuhi standar kualitas sebelum didistribusikan kepada masyarakat.

Selain itu, publik juga berhak mengetahui berapa volume air yang diproduksi setiap hari, berapa kapasitas produksi masing-masing IPAM, berapa volume air yang masuk ke jaringan distribusi, serta berapa tingkat kehilangan air dalam sistem distribusi.

Data tersebut menjadi relevan karena BP Batam sendiri menyediakan informasi mengenai kapasitas instalasi pengolahan air, kapasitas pemanfaatan air baku, laporan berkala kualitas air waduk dan laporan pemakaian air baku melalui unit pengelola SPAM.

Persoalannya kini bukan sekadar apakah BP Batam melakukan perbaikan atau tidak.

Pertanyaan yang harus dijawab adalah: seberapa efektif sistem tersebut bekerja ketika masyarakat masih mengeluhkan kontinuitas pasokan air?

BP Batam sebelumnya menyebut optimalisasi interkoneksi jaringan dilakukan untuk menjaga distribusi kepada pelanggan, termasuk wilayah ujung jaringan. Namun, penyesuaian distribusi dalam kondisi tertentu disebut dapat berdampak pada perubahan jam layanan.

Karena itu, transparansi data menjadi penting agar masyarakat tidak hanya menerima narasi mengenai “optimalisasi”, tetapi juga dapat melihat ukuran kinerja yang konkret.

Berapa jumlah pompa?

Berapa kapasitas produksinya?

Berapa biaya bahan kimia pengolahan air setiap bulan?

Berapa volume air yang diproduksi dan didistribusikan?

Dan yang paling penting, mengapa sebagian masyarakat masih harus menghadapi aliran air yang tidak lancar?

Di tengah keluhan pelayanan air bersih yang terus muncul, publik kini menunggu jawaban berbasis data dari BP Batam.

Sebab, air bersih bukan hanya soal infrastruktur yang terus dibangun, tetapi juga soal seberapa efektif sistem tersebut menjamin air mengalir secara cukup, aman, dan berkelanjutan kepada masyarakat.

(prmtillahii/Cyk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup