Diduga Brutal dan Main Hakim Sendiri, Pengunjung Rumah Makan Tenda Biru Dikeroyok Enam Karyawan hingga linglung

Batam Cyberkriminal.id – Tindakan kekerasan brutal kembali terjadi di wilayah hukum Batu Ampar. Seorang pengunjung rumah makan Tenda Biru yang berlokasi di sekitar Kampung Bule, Batu Ampar, Kota Batam, menjadi korban pengeroyokan secara membabi buta oleh enam orang yang diduga merupakan karyawan rumah makan tersebut, Minggu malam (11/01/2026).

 

Peristiwa bermula saat korban hendak makan di rumah makan Tenda Biru dan memesan menu hati ampela serta tahu. Usai makan, korban menyadari dompetnya tertinggal. Karena telah mengenal salah satu karyawan, korban dengan itikad baik meminta izin untuk berutang sementara dan berjanji akan segera membayar.

Namun permintaan tersebut ditolak secara keras oleh karyawan rumah makan. Korban kemudian memilih pergi ke area parkiran mie Agam untuk menemui rekannya guna meminjam uang. Ironisnya, beberapa karyawan rumah makan Tenda Biru justru mengikuti korban, yang membuat korban merasa terintimidasi dan terprovokasi.

 

Situasi memanas saat air minum yang dipegang korban tersiram ke arah karyawan. Tanpa ada upaya penyelesaian secara manusiawi, korban justru dipukuli dan dikeroyok secara bersamaan oleh enam orang, hingga korban tersungkur dan kehilangan kesadaran di lokasi kejadian.

 

Akibat pengeroyokan tersebut, korban mengalami luka di bagian kepala dan telinga, serta mengeluhkan pusing berat, yang diduga akibat hantaman keras dan pukulan bertubi-tubi.

Atas kejadian ini, korban secara resmi telah melaporkan peristiwa pengeroyokan tersebut ke Polsek Batu Ampar untuk diproses secara hukum.

 

Korban berharap aparat kepolisian bertindak tegas, profesional, dan tidak pandang bulu, mengingat tindakan para pelaku diduga telah memenuhi unsur pengeroyokan sebagaimana diatur dalam Pasal 170 KUHP, yang ancaman hukumannya tidak ringan.

 

Kasus ini menimbulkan pertanyaan serius di tengah masyarakat:

Apakah persoalan sepele seperti lupa membawa dompet pantas dibalas dengan kekerasan brutal dan pengeroyokan massal?

Di mana rasa kemanusiaan dan etika pelayanan publik?

Masyarakat mendesak aparat penegak hukum untuk segera menangkap dan menahan para pelaku, serta menindak tegas pemilik usaha apabila terbukti membiarkan budaya kekerasan di tempat usahanya. Jika dibiarkan, kejadian serupa dikhawatirkan akan kembali terulang dan memakan korban lain.

 

Kasus ini menjadi ujian nyata bagi aparat penegak hukum di Batu Ampar:

Hukum harus ditegakkan, bukan sekadar laporan yang berakhir tanpa kejelasan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup