KEK Nongsa Basah, Warga Kering Kerontang: Air Mati Total, Amarah Massa Meledak!
Cyberkriminal.id, Batam – Pengkhianatan terhadap hak dasar rakyat kecil kembali diper tontonkan secara telanjang dan tanpa urat malu di Kota Batam. Saat Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Nongsa menyedot dan memanjakan fasilitasnya dengan aliran air bersih tanpa henti, ribuan warga lokal di sekitarnya justru
diterlantarkan bak binatang yang dibiarkan mati kekeringan. Amukan massa memuncak pada Sabtu (19/09/2026), saat kesabaran warga di sepanjang Jl. Hang Lekiu No. KM 2, Kelurahan Sambau, Kecamatan Nongsa, pecah menjadi aksi perlawanan keras.
Tindakan pengelola air dan pihak berwenang yang membiarkan pemukiman warga kering kerontang tanpa setetes air pun adalah bentuk kejahatan pelayanan publik paling brutal dan tidak berperi kemanusiaan.
Air kami di sini mati total, Pak! Jangankan untuk mandi atau cuci piring, untuk cebok saja air tidak ada! Kami diperlakukan seperti bukan manusia!” jerit salah seorang warga dengan nada geram meluap-luap saat mencegat wartawan , Sabtu (19/09/2026).
Cermin Kegagalan dan Pengkhianatan Bagi Rakyat
Kondisi ini bukan lagi sekadar kendala teknis, melainkan bentuk diskriminasi kejam yang menyengsarakannya
masyarakat demi mengabdi pada kepentingan kapitalis. Sangat tidak masuk akal ketika tembok KEK Nongsa dialiri air melimpah untuk urusan bisnis, sementara warga yang berada tepat di luar pagar harus menanggung penderitaan fisik dan mental akibat tidak bisa memenuhi
kebutuhan sanitasi paling mendasar.
Tidak tahan terus-menerus diinjak dan diabaikan, gelombang massa akhirnya bergerak menggeruduk dan mengepung kawasan KEK Nongsa. Dengan amarah yang menyala-nyala, warga melancarkan protes brutal dan menuntut
pertanggungjawaban atas kezaliman yang mereka alami.
Aksi amuk massa ini melemparkan tamparan keras tepat di muka Pemko Batam, BP Batam, serta konsorsium pengelola air bersih:
Mengapa hak hidup rakyat kecil disembelih demi memastikan fasilitas bisnis mewah tetap basah?
Apakah penderitaan warga yang bahkan tidak bisa bersuci/cebok dijadikan harga yang harus dibayar demi status Kawasan Ekonomi Khusus?
Pemerintah dan pengelola air tidak boleh lagi bersembunyi di balik alasan klasik. Rakyat Nongsa sudah sampai pada titik didih tertinggi. Jika keran air untuk
pemukiman warga tidak segera mengucur deras hari ini juga, amukan massa yang lebih massif dipastikan akan meluluhlantakkan keangkuhan para penguasa air di Batam!









